Selamat Datang di Perkumpulan Pelestari Sejarah dan Kebudayaan

TERNYATA DANAU DI SEBERANG RUMAH RESIDEN KARAWANG BUATAN ABAD KE 19

Situ Buleud ditengah Kota Purwakarta sekitar tahun 1928
(Sumber: www.kitlv.nl)

Di balik pertunjukan air mancur megah yang kini menjadi ikon pariwisata Kabupaten Purwakarta, tersimpan rekam jejak sejarah panjang berusia hampir dua abad. Situ Buleud, danau buatan seluas sekitar 4 hektar yang menjadi Taman Air Mancur Sri Baduga, ternyata berawal dari sebuah proyek tata kota pada masa kolonial Hindia Belanda.

Situ Buleud adalah danau buatan berbentuk bundar (buleud) yang berfungsi sebagai waduk resapan air, penyejuk mikroiklim kota, dan pusat kegiatan sosial-budaya. Saat ini, lokasinya telah ditetapkan sebagai Struktur Cagar Budaya Kabupaten Purwakarta. 

Gagasan pengerukan dan pembangunan Situ Buleud diprakarsai oleh Bupati Raden Adipati (R.A.) Suriawinata atau yang dikenal dengan gelar Dalem Sholawat, Bupati Karawang/Purwakarta periode 1830–1849.

Proses pengerukan awal berlangsung pada rentang tahun 1830 hingga pertengahan 1831. Keberadaannya diresmikan bersamaan dengan penetapan Purwakarta sebagai ibu kota baru melalui Besluit (Surat Keputusan) Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 2 tanggal 20 Juli 1831. Danau ini kemudian diperluas pada tahun 1854.

Berlokasi strategis di kawasan Nagrikidul, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat—hanya berjarak sekitar 500 meter dari kompleks Pendopo dan Alun-alun Purwakarta.

Sebelum tahun 1830, kawasan tersebut merupakan hutan rawa alami yang menjadi tempat pangguyangan (kubangan) badak liar. Pembangunan danau dilakukan untuk mengalihkan rawa menjadi sumber air bersih warga dan sarana bersuci di Masjid Agung, sekaligus sebagai ruang publik penyejuk suhu kota Purwakarta yang terik.

Pembangunan dilakukan melalui kerja bakti masyarakat dengan mengeruk rawa-rawa secara simetris hingga membentuk lingkaran. Untuk menjaga volume air agar tak pernah surut, dibangun saluran kanalisasi (Solokan Gede) yang mengalirkan air langsung dari mata air Pasawahan. Di tengah danau juga didirikan panggung kayu (pasanggrahan) sebagai tempat menyaksikan seni tradisional seperti wayang golek dan calung.

Kini, danau yang dahulu dirancang sebagai penyejuk kota kolonial tersebut telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi wisata air mancur cantik tanpa menghilangkan nilai historis yang melatarbelakanginya.

Penulis: NB.Munib (05/10/2026)

0 Komentar